Digits Unpad dan Kemenparekraf Gelar FGD Bahas Standar Harga Jasa Desain dan Remunerasi Profesi Desain di Indonesia

Pusat Studi Inovasi Digital atau Center for Digital Innovation Studies (Digits) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia menggelar diskusi kelompok terfokus (FGD) mengenai Standar Harga Jasa Desain dan Remunerasi Profesi Desain di Indonesia.

FGD Digits Kemenparekraf

Tim Riset Digits Unpad berfoto bersama pada kegiatan diskusi kelompok terfokus (FGD) antara Digits Unpad dengan Kemenparekraf RI mengenai Standar Harga Jasa Desain dan Remunerasi Profesi Desain di Indonesia.(14/06).

Menurut rencana, diskusi ini akan diselenggarakan sebanyak 4 kali. Diskusi pertama dilaksanakan bulan Juni ini, dihadiri oleh sekitar 30 orang perwakilan dari komunitas desain yang tergabung dalam Asosiasi Profesi Desainer Indonesia, di antaranya Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII), AIDIA – Asosiasi profesional desain komunikasi visual Indonesia, Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII), Himpunan Desainer Mebel Indonesia (HDMI), dan Indonesian Fashion Chamber (IFC).

Kegiatan FGD pertama ini dibuka oleh Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf Dr. Ir. Wawan Rusiawan, M.M. Sementara itu dari kalangan akademisi dihadiri oleh sejumlah dosen Unpad diantaranya Kepala Pusat Studi Inovasi Digital Dr. Hamzah Ritchi, Ak, CA, Ketua Tim Riset Tarif Jasa Desain Sunu Widianto, SE., M.Sc.Ph.D , Kepala Divisi Riset dan Kerjasama Pusat Studi Inovasi Digital Irsyad Kamal, SE.,MBA.,QWP. Diskusi ini mengangkat 2 topik besar, yaitu Standar Harga Jasa Desain dan Remunerasi bagi Profesi Desain di Indonesia.

Kepala Divisi Riset dan Kerjasama Pusat Studi Inovasi Digital Irsyad Kamal, SE., MBA., QWP  mengatakan, kegiatan diskusi ini dilatarbelakangi adanya keprihatinan terhadap industri desain yang belum memiliki standar tarif jasa desain serta nasib para desainer yang ada di Indonesia. Desain sebagai karya intelektual saat ini masih belum mendapatkan posisi yang layak sehingga seringkali para desainer dan karyanya tidak memperoleh apresiasi yang sewajarnya.

“ Pertumbuhan industri desain di Indonesia di era digital ini semakin pesat dan kontribusi terhadap pendapatan negara cukup besar, hal ini berbanding terbalik dengan kondisi kesejahteraan pelaku bisnis ini” ungkapnya.

Lebih lanjut Irsyad mengatakan bahwa Digits Unpad berperan penting untuk memfasilitasi para desainer untuk terus berkarya di industri desain. Wujud bantuan itu berupa dilaksanakannya riset standar harga jasa desain dan remunerasi bagi para desainer di Indonesia yang nantinya akan dijadikan pedoman bagi para desainer.

“ Karena pertumbuhan industri desain ini sangat pesat, maka saya kira harus dilakukan upaya untuk membawa dampak baik bagi desainer, salah satunya penentuan standar harga dan remunerasi. Unpad hadir untuk bantu memfasilitasi sesuai dengan metodologi yang tepat dalam penelitian ini” ujarnya.

“Tanggung jawab para akademisi sangat strategis, bukan untuk menentukan tarif jasanya tapi bagaimana membantu mereka untuk merumuskannya dan Digits juga menyiapkan sistem update tarif setiap tahunnya” tambahnya.

Sementara itu Ketua Tim Riset Tarif Jasa Desain Sunu Widianto, SE., M.Sc.Ph.D menyebutkan, diskusi ini merupakan tindak lanjut dari penelitian yang dilakukan oleh kemenparekraf terkait Dasar Pengadaan dan Pengelolaan Jasa Desain di Indonesia, yang sejak pertama diluncurkan telah disambut baik dan mendapatkan apresiasi dari pelaku dan pemangku kepentingan jasa desain di tanah air.

“Diskusi pertama ini hasilnya adalah lahirnya konsensus dengan para desainer dan juga instrumen-instrumen untuk survey besar nantinya, ini adalah tindak lanjut dari buku yang tahun 2020 dikeluarkan oleh kemenparekraf tentang pengelolaan jasa desain” ujarnya.

Lebih lanjut Sunu menjelaskan bahwa riset yang akan dilakukan dalam waktu 3 bulan ini akan menghasilkan buku pedoman standar harga jasa desain dan remunerasi bagi profesi desain di Indonesia. Selanjutnya buku itu akan dibagikan kepada stakeholder diantaranya kemenparekraf selaku regulator, Pelaku usaha, Akademisi dan komunitas.

“Selah disusun faktor-faktor penentu di Industri desain kemudian kita lakukan survey untuk pemetaan pelaku usaha desain dan akhirnya nanti kita akan mengeluarkan 2 buku saku, yaitu buku tentang standar harga jasa desain dan remunerasi yang akan dibagikan ke para stakeholder ” ungkapnya.

Tim peneliti unpad yang terlibat berjumlah 8 orang dan dibantu oleh 10 orang mahasiswa dari implementasi program  kampus merdeka. Mahasiswa yang direkrut oleh Digits itu nantinya akan mendapat nilai kredit SKS dan uang saku.

Harapan ke depannya para akademisi dan para pelaku usaha desain dapat saling bertukar informasi, data bahkan berkolaborasi riset dan pengabdian terkait industri desain di indonesia. Sehingga pertumbuhan industri desain di Indonesia akan berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan bagi para pelaku usahanya.

Sunu menjelaskan, diskusi pertama yang digelar itu terlihat antusiasme dari para komunitas dan akademisi. Ini membawa aura positif bagi perkembangan dan keberhasilan industri desain di Indonesia.  Sehingga diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang jasa industri desain kepada para pemangku kepentingan, terutama pemerintah selaku pembuat kebijakan, klien sebagai pemberi tugas, desainer sebagai pelaksana tugas, maupun dunia pendidikan dan masyarakat.

Laporan oleh Dani Wahdani

FDG