Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Guru Besar FEB Unpad Lakukan Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat tentang Ekosistem Bisnis Kawasan 3T di Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Barat

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Padjadjaran, Prof. Budi Harsanto, memimpin rangkaian kegiatan riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di tiga kawasan transmigrasi yang berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), yaitu Kawasan Salor, Merauke di Papua Selatan, Kawasan Melolo, Sumba Timur di Nusa Tenggara Timur, dan Kawasan Tubbi Taramanu, Polewali Mandar di Sulawesi Barat pada Oktober–November 2025. Selain memperkuat basis data kawasan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat juga diarahkan untuk membantu masyarakat mengidentifikasi potensi ekonomi lokal serta memetakan jejaring kolaborasi yang relevan bagi pengembangan wilayahnya. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Kementerian Transmigrasi dan Universitas Padjadjaran untuk memperbaiki rantai pasok kawasan, serta merumuskan rekomendasi kebijakan berbasis inovasi bagi pengembangan transmigrasi di daerah yang masih menghadapi banyak kendala infrastruktur dan kelembagaan.

 

Dalam berbagai kesempatan Focus Group Discussion (FGD) dan kunjungan lapangan ke lokasi, Prof. Budi menegaskan pengembangan kawasan transmigrasi memerlukan fondasi kuat melalui visi kawasan yang jelas, lembaga orkestrator yang mampu menjadi mesin penggerak, serta ekosistem pendukung yang terintegrasi.

 

“Tanpa visi jangka panjang yang disepakati bersama, para aktor akan bekerja sendiri-sendiri. Sebuah kawasan harus punya arah bersama, dan setiap pihak tahu perannya,” ujarnya.

 

Ia menekankan lembaga seperti koperasi, konsorsium BUMDes ataupun lembaga kolaborasi lainnya perlu menjalankan fungsi kurasi, agregasi, dan negosiasi pasar, termasuk mengelola rantai pasok komoditas agar lebih efisien.

 

Kegiatan di Salor, Papua Selatan, dilakukan melalui dua FGD yang melibatkan warga transmigran, pelaku UMKM, pengusaha penggilingan, kelompok tani, BUMDes, kepala kampung, serta dinas teknis daerah. Forum ini memperlihatkan potensi ekonomi yang besar—mulai dari pertanian, perikanan, peternakan hingga ekonomi kreatif—namun masih ada yang belum tergambar dalam peta ekosistem dan rantai pasok kawasan. Tantangan terbesar yang muncul berasal dari aspek pemasaran dan serapan produk.

 

“Tahun ini hasil panen bagus, tapi serapan Bulog sangat terbatas. Akhirnya gabah menumpuk di penggilingan,” ujar Suliswati, pemilik penggilingan di Salor.

 

Selain itu, kondisi infrastruktur menjadi persoalan yang banyak dikeluhkan warga. Riyanto, Kepala Kampung Salor, menuturkan kerusakan jalan memicu biaya distribusi yang membengkak.

 

“Harga angkut satu karung gabah jadi jauh lebih mahal. Kalau hujan deras, beberapa titik bahkan tidak bisa dilalui, ujarnya.”

 

Persoalan lain yang muncul dari pembukaan lahan skala besar yang tidak diawasi dengan baik hingga menimbulkan banjir. Selain itu, legalitas badan usaha kampung menjadi hambatan tersendiri.

 

“BUMK kami masih belum selesai legalitasnya meski sudah bertahun-tahun kami urus,” kata Kusrinah, pengurus BUMK.

 

Sementara itu Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, tantangan geografis dan agroklimat mendorong perlunya pendekatan pengembangan berbasis inovasi yang lebih adaptif. FGD di Sumba Timur dihadiri penuh oleh Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, yang menegaskan pentingnya data akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan.

 

“Perencanaan dan pengambilan kebijakan dalam peningkatan pembangunan ekonomi masyarakat dan daerah harus didasarkan pada data yang valid dan akurat. Oleh karena itu, saya berharap dalam forum ini kita dapat menghasilkan masukan yang konstruktif dan bermanfaat bagi pengembangan kawasan transmigrasi Melolo,” ujarnya.

 

Pernyataannya sejalan dengan fokus riset tim Unpad yang menekankan pentingnya inovasi berbasis data untuk memperkuat rantai pasok dan memetakan peluang ekonomi di daerah dengan keterbatasan air dan transportasi.

 

Di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, kawasan transmigrasi memiliki potensi besar pada agroforestri dan produksi pangan, namun masih menghadapi kendala konsolidasi produksi dan akses pasar yang belum efisien. Para tokoh masyarakat setempat menekankan pentingnya pendampingan jangka panjang, penguatan organisasi ekonomi desa, serta integrasi data kawasan agar rantai pasok komoditas dapat berjalan lebih lancar dan kompetitif. Diskusi di lapangan memperlihatkan perlunya inovasi manajemen usaha agar masyarakat dapat lebih mudah menembus pasar yang lebih luas.

 

Rangkaian kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat jejaring akademik di tiap wilayah. Tim Unpad membangun kolaborasi dengan Universitas Musamus di Merauke, Universitas Kristen Wira Wacana di Sumba Timur, serta Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan Universitas Negeri Makassar, Sulawesi Selatan. Menurut Prof. Budi, kolaborasi akademik lokal sangat penting untuk memastikan keberlanjutan pendampingan berbasis inovasi.

 

“Kegiatan seperti ini dapat berjalan efektif jika perguruan tinggi lokal dilibatkan. Rekan-rekan dari perguruan tinggi lokal lebih memahami konteks lingkungan, sosial, dan budaya setempat,” ujarnya.