Fakultas Ekonomi dan Bisnis

68 Tahun FEB Unpad: Dari Warisan Keunggulan Menuju Masa Depan Berkelanjutan

Bandung, Oktober 2025 — Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad) menandai puncak perayaan Dies Natalis ke-68 dengan Orasi Ilmiah sebagai momentum penting untuk merefleksikan perjalanan panjang sejak berdirinya pada tahun 1957 dan meneguhkan komitmen menuju fakultas bereputasi global yang berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan.

 

Dalam enam dekade lebih kiprahnya, FEB Unpad telah berkembang menjadi salah satu fakultas ekonomi dan bisnis dengan program-program studi yang terakreditasi secara nasional maupun internasional. Peringatan Dies Natalis ke-68 ini juga menjadi ajang penghargaan bagi para dosen, mahasiswa, alumni, serta mitra yang telah berperan dalam membangun reputasi akademik dan sosial fakultas.

 

Dekan FEB Unpad menegaskan bahwa momen peringatan ini bukan hanya perayaan, tetapi juga refleksi untuk memperkuat visi masa depan. “FEB Unpad berkomitmen menjaga relevansi dalam dunia pendidikan yang dinamis dan terus beradaptasi untuk memenuhi standar global,” ujarnya.

 

Pada orasi ilmiah kali ini, FEB Unpad menghadirkan Prof. Budy P. Resosudarmo, ekonom pembangunan dan lingkungan dari Australian National University (ANU), sebagai pembicara dengan tema “Prospects for Navigating Climate Change in Indonesia.”

 

Prof. Budy, yang juga menjabat sebagai Head of ANU Indonesia Project, merupakan akademisi yang dikenal luas atas risetnya mengenai dampak kebijakan ekonomi dan lingkungan terhadap kesejahteraan masyarakat. Ia juga aktif berkolaborasi dengan tim riset FEB Unpad dalam berbagai studi mengenai pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

 

Dalam orasinya, Prof. Budy menguraikan tantangan dan peluang Indonesia dalam menghadapi perubahan iklim global. Ia menyoroti bahwa laju pemanasan bumi kini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan empat dekade lalu, dan jika tren ini berlanjut, ambang batas 1,5°C di atas tingkat praindustri dapat tercapai sebelum tahun 2030.

 

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin regional dalam transisi energi bersih melalui pengembangan floating solar di wilayah ekuator, pembangkit tenaga air sistem penyimpanan (pumped hydro), serta supergrid energi nasional yang menghubungkan sumber daya terbarukan antarwilayah.

 

Prof. Budy juga menekankan pentingnya membangun kerangka hukum yang kuat dan lembaga khusus di bawah otoritas nasional untuk memastikan koordinasi lintas sektor dalam kebijakan iklim. Ia menambahkan bahwa kerja sama antarnegara di kawasan Asia Timur dan Tenggara akan menjadi kunci dalam mempercepat dekarbonisasi dan menciptakan pasar karbon regional yang adil dan efisien.

 

“Adaptasi terhadap perubahan iklim harus menjadi inti dari strategi pembangunan berkelanjutan, bukan sekadar tambahan,” ujarnya.

 

Di penghujung orasinya, beliau menegaskan peran konkret FEB Unpad yang dapat dilakukan melalui penguatan pusat studi ekonomi hijau dan kebijakan lingkungan, serta mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam penelitian dan proyek sosial berbasis Sustainable Development Goals (SDGs).

 

Selain itu, FEB Unpad juga telah menjadi menjadi salah satu pionir dalam kemitraan riset internasional terkait ekonomi hijau, transformasi energi, dan pemberdayaan UMKM berkelanjutan, termasuk kolaborasi dengan ANU Indonesia Project yang dipimpin oleh Prof. Budy.

 

Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan, FEB Unpad beupaya untuk terus menjadi fakultas yang unggul, berdaya saing global, dan berdampak positif bagi masyarakat serta bangsa selaras dengan semangat orasi Prof. Budy yaitu, menjaga bumi, memperkuat ekonomi, dan membangun masa depan yang berkelanjutan.