Skip to main content

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

34 Tahun Sebelum AI Jadi Tren Global: Rudi Fajar Mahasiswa Akuntansi FEB Unpad Sudah Merancang Embrionya Lewat Skripsi Tahun 1992

Bandung, FEB Unpad – Ketika internet belum hadir di Bandung dan istilah artificial intelligence (AI) masih terdengar asing bagi banyak orang, seorang mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Padjadjaran telah mencoba membayangkan bagaimana kecerdasan buatan dapat membantu pekerjaan akuntan di masa depan.


Ia adalah Rudi Fajar, alumni Program Studi Sarjana Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran. Pada Juli 1992, Rudi menyelesaikan skripsi berjudul “Artificial Intelligence sebagai Alat Bantu Akuntan Publik dalam Pemilihan Prosedur Pemeriksaan Piutang.”


Di tengah dominasi penelitian akuntansi yang bersifat konvensional pada masa itu, pilihan topik tersebut terbilang tidak lazim. Ketertarikan Rudi pada AI berawal dari rasa ingin tahu yang besar terhadap perkembangan teknologi.

“Waktu itu kan masih muda, penuh dengan rasa ingin tahu, penuh dengan idealisme keilmuan, dan utamanya tertantang,” kenangnya.


Inspirasi tersebut muncul saat ia mengikuti perkuliahan System Management. Dalam salah satu buku teks berbahasa Inggris yang digunakan di kelas, terdapat pembahasan singkat mengenai artificial intelligence dan expert system.


“Ada satu paragraf yang membahas selintas mengenai Artificial Intelligence, yang mengatakan bahwa pada masa depan tingkatan yang paling canggih dari program komputer adalah penggunaan artificial intelligence dan expert system,” ujarnya.


Meskipun hanya menemukan sedikit referensi, Rudi memutuskan untuk mendalami topik tersebut. Tantangan terbesar justru datang dari sulitnya memperoleh literatur. Pada awal 1990-an, akses terhadap sumber pengetahuan mengenai AI sangat terbatas.


“Saya tidak menemukan referensinya di Bandung maupun Jakarta. Karena sudah kepalang basah, saya mencari literatur ke Singapura dan mendapatkan dua sampai tiga buku yang saya perlukan,” katanya.


Dalam skripsinya, Rudi mencoba mengeksplorasi pemanfaatan teknologi untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam pemeriksaan piutang. Ia meyakini bahwa semakin lengkap data yang tersedia, semakin baik pula kualitas informasi yang dihasilkan.


“Saya meyakini jika data besar dan lengkap, maka proses pengolahan informasi akan lebih lengkap, lebih akurat, dan mengurangi human error. Semakin banyak data maka akan semakin pintar dan akurat,” jelasnya.


Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Rudi bekerja sama dengan teman kosnya yang merupakan mahasiswa Teknik Industri ITB. Dengan menggunakan perangkat lunak Clipper Summer ’87, mereka mengembangkan program sederhana yang berfokus pada proses pemilihan sampel pemeriksaan piutang.


Menurut Rudi, program yang dibuatnya tentu belum dapat disamakan dengan AI modern seperti yang dikenal saat ini. Namun, gagasan yang mendasarinya memiliki semangat yang serupa: memanfaatkan data dan sistem komputer untuk membantu proses pengambilan keputusan manusia.


“Dikaitkan dengan AI dengan definisi saat ini tentu akan debatable. Program tersebut lebih tepatnya embrio atau cikal-bakal AI,” ujarnya.


Ia juga mengakui bahwa tujuan utama skripsinya bukanlah menciptakan teknologi yang sempurna, melainkan menyampaikan sebuah gagasan besar melalui contoh sederhana yang dapat dipahami oleh pembaca.


Lebih dari tiga dekade kemudian, ketika AI telah berkembang pesat dan digunakan dalam berbagai bidang, termasuk akuntansi, kisah Rudi Fajar menjadi pengingat bahwa keberanian untuk mengeksplorasi ide-ide baru sering kali menjadi awal lahirnya inovasi. Apa yang pada 1992 masih berupa gagasan dan embrio pemikiran, kini telah berkembang menjadi teknologi yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan mengambil keputusan

.

Bagi FEB Unpad, kisah ini menunjukkan bahwa semangat untuk berpikir visioner dan melampaui zamannya telah tumbuh di lingkungan kampus jauh sebelum AI menjadi fenomena global.