Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Menembus Batas, Menggapai Asa: Intan Nadilah, Wisudawan FEB Unpad yang Menjadi Sarjana Pertama di Tengah Keluarga Tercinta

Wisuda bukan sekadar seremoni akademik. Bagi Intan Nadilah, lulusan Program Studi Akuntansi Perpajakan FEB Unpad dari Majalaya, Kabupaten Bandung, hari kelulusannya di bulan Agustus ini menjadi bukti bahwa mimpi besar bisa diraih meski berasal dari keluarga sederhana dengan berbagai keterbatasan.

 

Ia adalah anak kedua dari empat bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian lepas, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Intan membuktikan bahwa semangat dan tekad mampu membawa seseorang melampaui keterbatasan. Dengan tekad kuat dan semangat tak henti, Intan membuktikan bahwa ia pun mampu menembus batas-batas sosial dan ekonomi demi pendidikan. Ia menjadi sarjana pertama di keluarganya.

 

“Pendidikan bukan soal gender, perempuan pun berhak meraih pendidikan setinggi-tingginya. Terlahir dari keluarga sederhana bukanlah halangan untuk menggapai cita-cita, dan menjadi anak kampung bukan berarti harus terkurung,” ujarnya tegas.

 

Sejak semester awal, Intan aktif dalam organisasi kampus sebagai anggota Departemen Sosial, Masyarakat, dan Lingkungan dan kegiatan sosial sebagai kader di Karang Taruna Bhakti Lugina Desa Biru. Tak lama kemudian, ia dipercaya untuk membantu pemerintahan desa. Di semester ke-3 hingga ke-5, ia mulai bekerja demi menopang kebutuhan kuliah. Semua dilakukan tanpa meninggalkan tanggung jawab akademiknya.

 

“Sulit memang, terutama dalam membagi waktu. Tapi saya selalu berpegang pada prinsip bahwa pendidikan tetap diutamakan, tugas harus segera diselesaikan, dan belajar harus selalu dimaksimalkan,” ungkapnya.

 

Selama kuliah, Intan tak hanya bekerja, tapi juga memperkaya pengalaman melalui program magang di berbagai instansi, mulai dari Kantor Pelayanan Pajak Madya Bandung, Kantor Akuntan Publik, hingga Kantor Konsultan Pajak SAR Tax & Management Consultant. Pengalaman ini memperkuat pemahamannya akan dunia akuntansi dan perpajakan secara langsung.

 

“FEB Unpad bukan hanya tempat belajar, tapi tempat saya tumbuh. Di sini saya belajar mengelola peran, menghadapi tekanan, dan tetap berpegang pada integritas,” jelas Intan.

 

Di balik pencapaian ini, tersimpan motivasi mendalam dari pesan terakhir almarhum neneknya yang sangat ia cintai, “Cing jadi sarjana nya, emak hoyong aya incu ema nu jadi sarjana,”. Pesan itu menjadi cahaya yang selalu menguatkannya saat menghadapi tekanan ekonomi, rasa lelah, bahkan ketika hampir menyerah. Kini, ia persembahkan toga yang ia kenakan hari ini sebagai wujud nyata dari wasiat tersebut.

 

Foto almarhum sang nenek yang dibawa saat wisuda menjadi simbol ikatan cinta yang tak terputus. Orang tua Intan pun tak kuasa menahan haru, bangga melihat putrinya mampu menembus segala keterbatasan. “Bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Perjuangan panjang ini akhirnya membuahkan hasil,” ungkap Intan dengan mata berkaca-kaca.

 

Kini, Intan sudah memiliki pekerjaan yang cukup baik dan terus menata langkah ke depan. Ia berharap bisa terus membahagiakan kedua orang tuanya, menginspirasi anak-anak muda di kampungnya, dan menjadi bukti nyata bahwa perempuan dari desa pun bisa sukses di dunia akademik dan profesional.

 

FEB Unpad bangga menjadi bagian dari perjalanan para alumni tangguh seperti Intan Nadilah yang tidak hanya lulus sebagai sarjana, tetapi juga sebagai inspirasi bagi generasi berikutnya. FEB Unpad akan terus berkomitmen melahirkan future leaders yang tangguh, berdaya, dan membawa perubahan bagi masyarakat.